Rabu, 22 Februari 2017

Tulang Rusuk Lelaki Bugis dan Makassar

Badik/Kawali

Badik adalah salah satu senjata tajam asal Bugis-Makassar. Dulunya, badik digunakan dalam pertarungan satu lawan satu dan dalam jarak dekat. Serupa dengan senjata tajam tradisional lainnya seperti keris, keberadaan badik bagi sebagian orang dianggap bisa membawa keberuntungan atau bahkan petaka pemiliknya.
Bahkan ada istilah dalam bahasa Makassar yang berbunyi; teai burakne punna tena na ammlakki badi’ (bukan pria namanya jika dia tidak memiliki badik). Istilah ini sekaligus menjelaskan betapa penting posisi badik dalam struktur budaya orang Makassar, utamanya para pria.
Ukuran badik yang kecil, biasanya berkisar antara 5 – 30 sentimeter, memungkinkan senjata tajam ini mudah dibawa ke mana-mana. Hingga sekarang, masih banyak lelaki-lelaki suku Bugis dan Makassar yang membawa badik mereka ke mana-mana. Suku Bugis dan Makassar yang gemar merantau biasanya membawa badik karena merasa terlindungi oleh adanya badik ini.badik memiliki bilah yang pipih, perut buncit dan tajam serta ujung yang runcing. Badik ini terdiri atas bagian gagang badik, tubuh badik dan sarung badik. Badik memiliki bentuk dan sebutan yang berbeda-beda tergantung dari daerah mana ia berasal. Di Makassar badik dikenal dengan nama badik sari yang memiliki kale (bilah) yang pipih, batang (perut) buncit dan tajam serta cappa dan banoang (sarung badik).
Sementara itu badik Bugis disebut kawali, seperti Kawali Raja (Bone) dan Kawali Rangkong (Luwu). Kawali  Bone terdiri dari bessi (bilah) yang pipih, bagian ujung agak melebar serta runcing. Sedangkan kawali Luwu terdiri dari bessi yang pipih dan berbentuk lurus. Kawali memiliki bagian bagian: Pangulu (ulu/kepala), bessi (bilah) dan wanoa (sarung)
Setiap badik biasanya memiliki pamor pada bilahnya. Pamor didefinisikan sebagai “Ure’ (urat) atau rupa berupa motif dan guratan tertentu yang dihasilkan dari proses penempaan bahan pamor senjata pusaka sehingga menghasilkan bentuk disebut pamor. Pamor-pamor di badik biasanya menentukan nilai sebuah badik.
Ada beberapa macam-macam badik, di antaranya adalah;

1.Badik Raja(gocong raja,bentoala)
Badik ini berasal dari daerah Kajuara kabupaten Bone. Proses pembuatan badik raja atau Bontoala dipercaya melibatkan mahluk halus sebangsa jin dalam proses penempaannya. Konon orang-orang di sekitar Kajuara suatu ketika mendengar suara tempaan besi dari dalam lanresang pada saat tengah malam. Dan ketika pagi hari tiba-tiba telah ditemukan sebilah badik beserta sarungnya di dalam lanserang tersebut. Tidak seorang pun pandai besi yang mampu membuat badik serupa saat ini.

Bentuk fisik dari badik raha ini memiliki bilah yang relatif besar dengan ukuran 20 sampai 25 cm. Ray divo pengamat senjata tradisional memberikan komentar mengenai badik ini berupa bentuk yang mirip badik Lompobattang. Bentuk bilah yang sedikit membungkuk kemudian semakin ke ujung semakin lebar dan akhirnya meruncing kembali.

Pada badik ini terpasang pamor Timpalaja atau Mallasoan kale di dekat hulu dari badik ini. Bahan badik terbuat dari besi berkualitas tinggi dengan kandungan meteorit yang menonjol dipermukaan. Terdapat pola seperti arus panah hingga ke ujung badik. Pola ini dikenal dengan nama batu-lappa dan untuk pola yang lebih besar disebut dengan bunga pejje atau busa uwae. Motif ini identik dengan pasir yang melekat pada besi. Badik raja hanya digunakan oleh kalangan Arung di kalangan raja Bone.
2.Badik Lagecong
Badik La Gecong adalah badik dari suku bugis yang sangat terkenal di medan perang. Tidak satupun musuh yang terkena sabetan atau tikaman dari badik ini mampu bertahan untuk menceritakan kisahnya selamat dari tikaman Badik La Gecong.

Badik La Gecong terkenal ammoso, sejenis pamor yang ditanamkan ke dalam badik saat di tempa oleh empunya. Ketika lagecong telah tertancap di batang tubuh seseorang pamor ammoso akan menarik keinginan hidup korbannya. Selain itu konon pada masa perang seluruh senjata perang akan tunduk pada badik La Gecong ini.

Arti kata La Gecong sendiri masih menjadi misteri. Konon Gecong adalah badik yang di buat empunya yang bernama La Gecong tetapi ada juga yang mengatakan bahwa La Gecong berasal dari kata Gecong atau Geco' yang berarti sekali tersentuh langsung mati.
La Gecong yang asli konon terbuat dari daun Nipa (Rumbia) sehingga ia akan terapung di atas air dan melawan arus. Panjang dari La Gecong berukuran sejengkal tangan orang dewasa. Pamor La Gecong adalah lonjo dengan bentuk pipih tapi sangat kuat.


3.Badik Luwu
Badik Luwu berasal dari daerah Luwu. Bentuk badik agak sedikit membungkuk yang dalam istilah Makassar dikenal dengan istilah mabbukku tedong. Bilahnya lurus dan runcing dibagian depan. Badik luwu diberi pamor yang sangat indah, hingga saat ini bading Luwu adalah incaran para kolektor benda pusaka. Pada baja badik terdapat Rakkapeng atau sepuhan baja badik yang konon katanya sepuhan badik ini dibuat dari alat kelamin gadis perawan sehingga badik ini dibuat agar ilmu kebal dari sang lawan luntur dengan tikaman dari badik Luwu.

4.Badik Lompo Battang      
     Badik Lompo Battang secara harfiah diambil dari kata perut buncit atau besar. Dinamakan demikian karena bentuk dari tubuh badik ini menyerupai perut yang sangat buncit. Badik ini merupakan badik asli Makassar. Badik telah berusia 800 tahun yang telah ditempa ulang dari pusaka Berang Alameng atau Berang Sinangke. Badik ini sendiri mengambil pamor dari bahan asalnya yakni tidak akan ada korban yang sanggup bertahan lebih dari satu hari ketika dikenai tikaman Badik ini.

jika telah dicabut pantang masuk ke sarungnya sebelum melaksanakan tugasnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar